Showing posts with label Pembinaan di Lapas. Show all posts
Showing posts with label Pembinaan di Lapas. Show all posts
Saturday, 9 November 2013
Kathina Puja/Sangha-dana di Lapas Balerang 2 November 2013
Perayaan Kathina 2557 BE/2013 di Lapas tahun ini nampak meriah, dimana para umat Buddha yang ada turut mengikuti dengan atusias. Banyak keceriaan yang terlihat dari mereka menyambut hari raya Kathina diataranya menghias ruangan Cetia dan lain sebagainya. Acara Perayaan Kathina yang diadakan pada tanggal 2 November 2013 ini dihadiri oleh beberapa anggota Sangha yaitu bhikkhu Dhammavicayo Mahathera dan bhikkhu Tejapunno Thera.
Thursday, 29 January 2009
Potret Kegiatan Siraman Rohani Agama Buddha th. 2008
Namo Buddhaya,
Tak terasa perjalanan pembinaan kami di Lapas telah berjalan 3 (tiga) tahun lebih, sungguh satu perjalanan yang sulit dalam upaya mempertahankan, menjaga konsistensi dalam pengadaan, dan pengembangan pembinaan di dalam Lapas khususnya untuk Pembinaan Agama Buddha.
Tak terhingga kebahagiaan kami, karena sambutan dan penghargaan dari teman2 Buddhis di Lapas, mereka merasakan sungguh besar manfaat dari Siraman Rohani ini, mereka dapat belajar Agama Buddha dengan lebih jelas, mereka dapat melakukan diskusi langsung dengan sejumlah narasumber Buddhis seperti: para Bhikkhu, para Pandita, dan para Guru-guru Agama Buddha.

Tak terasa perjalanan pembinaan kami di Lapas telah berjalan 3 (tiga) tahun lebih, sungguh satu perjalanan yang sulit dalam upaya mempertahankan, menjaga konsistensi dalam pengadaan, dan pengembangan pembinaan di dalam Lapas khususnya untuk Pembinaan Agama Buddha.
Tak terhingga kebahagiaan kami, karena sambutan dan penghargaan dari teman2 Buddhis di Lapas, mereka merasakan sungguh besar manfaat dari Siraman Rohani ini, mereka dapat belajar Agama Buddha dengan lebih jelas, mereka dapat melakukan diskusi langsung dengan sejumlah narasumber Buddhis seperti: para Bhikkhu, para Pandita, dan para Guru-guru Agama Buddha.

Tak terduga juga... teman2 Buddhis di Lapas dapat mendengarkan langsung alunan nada merdua dari beberapa artis Buddhis terkenal seperti: Meicie Widjaja, Olivia Yunita, dan Candani. Pengalaman langka ini sungguh jarang ditemukan, ternyata karma baik dari teman2 di Lapas sangatlah mendukung, sehingga mereka walaupun di "dalam" namun serasa berada dekat dengan para Dhammaduta.
Kami haturkan terima kasih atas penghargaan ini, kami haturkan anumodana atas kebahagiaan bersama ini, tak lupa pula kami haturkan terima kasih kepada teman2 dari Dayaka Sabha Vihara Grha Buddha Manggala, yang senantiasa selalu siap-sedia untuk membantu MAGABUDHI, semoga perjalanan kita bersama di tahun 2009, 2010.. dan seterusnya.. terus berjalan.. selayaknya semboyan MAGABUDHI... Tulus Mengabdi Tiada Henti...
Salam metta,
MAGABUDHI PC Kota Batam
Potret Kegiatan Siraman Rohani Agama Buddha th. 2007
Namo Buddhaya,
Berikut kami sajikan sejumlah koleksi kegiatan yang telah berlangsung selama tahun 2007 dalam rangka pembinaan umat Buddha di Lembaga Pemasyarakatan Kota Batam kelas IIA.
Kami coba rangkum menjadi satu album foto per tahunan. Semoga dapat membawa manfaat bagi para pembaca, sehingga terinsipirasi, untuk turut peduli terhadap sesama umat Buddha di manapun berada, dalam kondisi bagaimanapun, turut peduli terhadap Pelestarian Buddha-Dhamma bagi generasi berikutnya. Semuanya adalah demi kebahagiaan dan kesejahteraan semua mahluk.

Salam metta,
MAGABUDHI PC Kota Batam
Pembina Umat Buddha di Lapas Barelang
Wednesday, 26 September 2007
Metode Pembinaan Umat Buddha di Lapas

Adapun metode Pembinaan yang kami lakukan adalah:
1. Menyanyikan lagu-lagu Buddhis untuk menambahkan suasana semangat, keceriaan, dan kesejukan dari alunan-alunan musik dan syair2 Dhamma, yang dipimpin oleh PMd. Santoso, Ibu Warinah, dan rekan-rekan mahasiswa Buddhis.
2. Meneguhkan keyakinan pada Buddha Dhamma, dan mengulang kembali sabda-sabda Sang Buddha melalui pembacaan Gatha, Sutta, dan Paritta.


3. Menambahkan pengetahuan Dhamma melalui Ceramah Dhamma yang dibawakan oleh para Pandita dari MAGABUDHI (PMd. Santoso, PMd. Suwarno), dan para bhikkhu, dan melalui Diskusi Dhamma yang dibagi dalam kelompok2 kecil dan dibimbing oleh para Pandita dan Guru2 Agama Buddha (Bpk. Kodho Eko Prayogo S.Ag, Bpk. Sarjono S.Ag, Ibu Warinah, Bpk. Suparman S.Ag, Bpk. Lasiman S.Ag)
4. Melatih diri dalam Sila dan Meditasi yang dibimbing oleh para bhikkhu yang biasanya rutin hadir ke Batam sebulan sekali/dua kali, dan yang telah diatur oleh Graha Buddha Manggala sesuai dengan program yang telah dibuat.

Antusias sangat besar sekali dari teman2 Buddhis di Lapas, mereka banyak bertanya soal bagaimana mengisi2 hari-hari... bagaimana mengatasi kekalutan pikiran, bagaimana mengatasi kekhawatiran, kegelisahan mereka... Kunci jawabannya adalah dengan Penyadaran Melalui Meditasi.
Ternyata mereka cukup responsif dengan jawaban ini, dan ada sejumlah teman yang telah mencobanya, dan telah merasakan hasilnya, mereka merasa dengan meditasi, hari-hari di dalam lapas sudah bukanlah kosong, namun mereka kini bisa merasakan manfaat dari Meditasi.. mereka menjadi lebih sadar, mawas diri, sehingga hari-hari dilalui tanpa merasa hampa... Namun PR (pekerjaan rumah) kami selaku pembina tidaklah berhenti sampai disini.. karena tidak semua teman2 Buddhis di lapas memiliki kesamaan dalam kemajuan batin, tidak semuanya memiliki masalah-masalah yang sama.
Kami terus berjuang memberikan pelayanan yang terbaik untuk umat Buddha.
Peresmian Cetiya Dhamma Manggala - Lapas Batam

Anumodana (turut berbahagia) ... kami haturkan kepada teman2 di Lapas, atas peresmian sebuah cetiya kecil yang telah layak dipergunakan sebagai tempat ibadat, tempat mengolah batin, melatih diri dalam kebajikan.
Inilah yang disebut karma baik telah berbuah dari apa yang telah mereka perjuangkan bersama-sama dengan Kami, selaku Pembina Umat Buddha di Lapas, dan tentunya juga atas dukungan dari para donatur yang telah bersedia merelakan melepaskan materi yang dia miliki untuk diberikan kepada teman-teman di Lapas guna terwujudnya sebuah Cetiya Dhamma Manggala di Lapas Batam.
Peresmian Cetiya Dhamma Manggala dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Juli 2007, pada pukul 13:00 - 16:00 WIB, namun mengalami sedikit kemoloran waktu, dan kami baru mulai pukul 14:30 WIB, yang mana juga dihadiri oleh rombongan dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa diwakili oleh Bpk. Asmin Patros, Delfina, dkk, serta Bpk. Rudi Tan selaku tokoh Buddhis di Kota Batam, dan Bpk. Sudir S.Pd selaku Penyelenggara Bimas Buddha Kota Batam. Dalam kesempatan ini, teman2 dari PSMTI juga turut meramaikan peresmian Cetiya Dhamma Manggala dengan melakukan aksi sosial berupa dana 1300 makanan kotak vegetarian, 1300 peralatan mandi, dan obat-obatan.
Bpk. Nofri dan Bpk. Azhar, selaku pejabat staf di Lapas Batam, berkenan hadir mewakili Kepala Lapas Batam, dan memotong pita merah, sebagai pertanda Cetiya Dhamma Manggala telah bisa mulai digunakan oleh umat Buddha di Lapas, kemudian beliau memberikan kata sambutan, mengucapkan selamat kepada Cetiya Dhamma Manggala, dan berterima kasih kepada Pembina Umat Buddha Lapas, yaitu Graha Buddha Manggala yang telah membina semenjak November 2005, dari mulai ketika kondisi di Lapas lama yang bisa dikatakan cukup susah karena tidak ada tempat khusus, namun kini telah memiliki tempat khusus, namun dengan harapan.. semoga cetiya ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pembinaan mental sesuai dengan nilai-nilai ajaran Buddha Gotama.
Demikian juga hal yang sama disampaikan oleh Bpk. Sudir S.Pd, beliau berpesan kepada teman-teman Buddhis di Lapas untuk mau lebih memperdalam ajaran Buddha Gotama sesuai dengan apa yang telah disusun oleh Pembina Umat Buddha Lapas (Graha Buddha Manggala), dengan berpatokan pada Kitab Suci Tipitaka Pali.

Cetiya Dhamma Manggala berhasil didirikan berkat dukungan dan kerjasama yang baik antar donatur dan teman-teman Buddhis di Lapas, serta kami selaku Pembina. Dengan segala fasilitas yang telah lengkap diantaranya telah ada:
- Sound system yang cukup baik + TV set, sehingga bisa digunakan untuk ceramah Dhamma, memutar lagu-lagu Buddhis, atau film-film Buddhis.
- Perpustakaan mini, yang telah dilengkapi dengan aneka buku-buku yang telah dibeli dari Bodhi Buddhist Centre Indonesia-Medan (Bro Rofin), yang terdiri dari buku2 terjemahan Sutta-sutta dalam bahasa Indonesia, buku2 Dhamma praktis, dan juga aneka VCD, DVD, dan MP3 Ceramah Bhante Uttamo yang telah dibeli dari Bursa Samaggi-Jaya (Ibu Subhadevi)
- Mading Lapas, yang memuat informasi2 terkini dari kegiatan2 Buddhis, maupun juga Tata Tertib Cetiya Dhamma Manggala.
Demikian sedikit informasi awal dari seputar peresmian Cetiya Dhamma Manggala.. selanjut akan kami update bagaimana kegiatan-kegiatan kami setiap bulannya di Potret Kegiatan.
Selamat untuk Cetiya Dhamma Manggala, Semoga Berkah dari Praktek Dhamma dapat dirasakan oleh teman-teman sekalian, dan tentunya Semoga Semua Mahluk Berbahagia !
Sadhu-sadhu-sadhu
Pemberkatan Buddha-rupang

Sesuai dengan tradisi Buddhis yang ada, kami dari segenap Pengurus Dayaka Sabha Graha Buddha Manggala selaku Pembina Umat Buddha di Lapas, melaksanakan pemberkatan Buddha-rupang di sebuah vihara/cetiya yang baru pada tanggal 9 Juni 2007 pukul 15:00-16:30, yang berdiri di tengah-tengah halaman Lapas Kota Batam. Bersama dengan Bhante Atimedho, kita membacakan alunan Paritta Suci, mengucapkan ujaran-ujaran kasih, semoga Cetiya yang baru ini dapat bermanfaat bagi umat Buddha di Lapas, dan bisa menghadirkan kesejukan serta kemajuan batin bagi umat Buddha.
Bhante Atimedho dalam ceramahnya, menyampaikan anumodana kepada Sdr. Joni dan Sdr. Atak, serta Pembina Umat Buddha di Lapas, berkat kekuatan kebajikan bersama inilah, akhirnya bisa mewujudkan sebuah cetiya, yang akhirnya diberikan nama CETIYA DHAMMA MANGGALA, harapan utama adalah semoga cetiya ini benar-benar bisa menjadi tempat untuk mendapatkan berkah dari Praktek Dhamma dan Kebajikan.
Selamat bagi teman2 Buddhis di Lapas... semoga semua mahluk turut berbahagia.
Perjalanan Awal mewujudkan sebuah vihara

Sdr. Joni & Sdr. Atak - teman Buddhis di Lapas, yang banyak membantu memimpin teman-teman Buddhis di Lapas, memberitahukan kepada kami tentang rencana dari pihak Lapas Batam untuk pindah ke lokasi baru, yang mana di tempat yang baru telah disediakan sebuah tempat khusus bagi pembinaan umat Buddha di Lapas, tempat itu sudah diperuntukkan untuk sebuah vihara, demikian pula untuk agama lain juga telah mendapatkan tempat.
Kami berangkat bersama Penyelenggara Bimas Buddha Kota Batam - Bapak Sudir S.Pd, Bhante Atimedho selaku Padesanayaka Wilayah Kepri, dan Bpk. Herman serta Bpk. Antoni Ng, melakukan survei ke lokasi Lapas yang baru, yaitu di daerah Tembesi, menuju ke arah Jembatan Barelang.
Kami cukup senang, karena akhirnya teman-teman Buddhis di Lapas bisa mewujudkan memiliki tempat khusus untuk membina diri sesuai Ajaran Buddha. Kami langsung melakukan pengukuran lokasi, mendaftar semua kebutuhan2 untuk melakukan renovasi, serta rencana-rencana pembangunan, yang kesemuanya dikoordinir oleh Bpk. Herman dan Sdr. Joni langsung.
Akhirnya kami berhasil membuat daftar kebutuhan renovasi Cetiya di Lapas, dengan total biaya kurang lebih 15 juta menurut Bpk. Herman, dan setelah kami total-total dengan pembiayaan untuk soundsystem maka kami dapatkan angka sekitar 16.5juta.
Secara langsung dari keluarga Bpk. Antoni Ng, Ibu Susi turut berdana, mereka berdana Buddha-rupang, Avalokitesvara-rupang, peralatan-peralatan altar, dan lukisan latar belakang altar. Keesokannya, Bpk. Rudi Tan juga langsung dengan suka rela turut berdana keramik untuk dipasangkan di vihara lapas.

Dayaka Sabha Graha Buddha Manggala yang selama ini selaku Pembina Umat Buddha di Lapas, langsung menyampaikan info ini ke teman2 Buddhis di Kota Batam, maupun di luar kota Batam yang mana kami telah sampaikan via milis MABINDO, dan SAMAGGIPHALA.
Ternyata respon dari teman2 di milis pun juga sangat baik. Teman-teman Buddhis dengan suka rela turut membantu dalam pembiayaan renovasi Cetiya/Vihara di lapas, dan telah terkumpul dana Rp. 14 juta, yang telah ditutup pengumpulan dana tersebut pada tanggal 23 Mei 2007.
Demikianlah awal yang baik dari pembangunan cetiya/vihara di lapas...
Peringatan Detik2 Waisak 2551 BE/2007

Kehadiran Buddha sebagai Sumber Ketegaran dan Kepedulian
Demikianlah tema Waisak yang diangkat tahun ini, tahun 2007 oleh Sangha Theravada Indonesia, dan berusaha kami sampaikan kepada Umat Buddha di Lapas Kota Batam.
Seperti halnya tahun lalu, tahun 2006, tatkala hari Raya Waisak jatuh pada hari Sabtu, 13 Mei 2006, Cetiya Buddha Manggala telah bersama-sama memperingati Hari Waisak pada pukul 09:00-10:30 WIB, di saat suasana pagi hari yang diselimuti awan mendung, dan hujan rintik-rintik, dan Dhammadesana dibawakan oleh PMd. Suwarno, menjelaskan sejarah hidup Sang Buddha Gotama... sungguh tersentuh mereka oleh sebuah cerita Kisagotami, bagaimana Sang Buddha membuat sebuah mukjizat yang benar-benar mukjizat, yaitu bukan dengan kesaktian, bukan dengan materi, namun dengan KESADARAN, dikisahkan bagaimana Sang Buddha berhasil menyadarkan Kisagotami akan halnya hidup ini adalah ANICCA alias berubah, "berpisah dengan yang dicintai, bertemu dengan yang dibenci ..." Teman-teman Buddhis di Lapas saat mendengarkan cerita ini, nampak dari wajah-wajah mereka yang tersentuh, dan berhasil memahaminya dengan baik... Sungguh bahagia bagi kami selaku Dhammaduta, karena apa yang kami berikan dapat membawa manfaat.
Selanjutnya pada tahun 2007, tepatnya hari Jumat, 1 Juni 2007 pukul 07:30 s/d 09:00, kami dengan setia juga ingin selalu menemani teman-teman Buddhis di Lapas untuk bersama-sama Memperingati Hari Waisak 1 Juni 2007 pukul 07:50:51, yang mana pada kesempatan kali ini, kami memiliki karma baik yang cukup kuat, sehingga bisa bersama-sama memperingati Detik-Detik Waisak secara bersama-sama dengan teman-teman Buddhis di Lapas, dengan melakukan perenungan bersama-sama akan Sifat-Sifat baik seorang Buddha, teman-teman di Lapas dengan khidmat mengikuti meditasi. Selanjutnya diisi dengan Ceramah Dhamma oleh PMd. Suwarno dengan topik yang disesuaikan dengan teman Waisak di tahun 2007 baik tema Waisak dari Sangha Theravada Indonesia dan dari KASI.
Thursday, 20 September 2007
Sejarah Mulainya Pembinaan di Lapas
Namo Buddhaya,
Demikian yang telah kami berikan kepada umat Buddha di Lapas, kami memulai pengabdian, pelayanan Siraman Rohani bagi umat Buddha di Lapas, diawali dengan satu permintaan dari Bapak Amat Tantoso pada akhir bulan November 2005, beliau adalah tokoh masyarakat di Kepulauan Riau, yang mana beliau saat itu berada di dalam lapas, beliau melihat satu kondisi dimana saat itu jumlah umat Buddha ada sekitar 20an orang di dalam Lapas, dan ternyata belum pernah ada Siraman Rohani Agama Buddha, sedangkan agama lain seperti Islam, Kristen, dan Katolik mereka mendapatkan jadwal Siraman Rohani dari majelis masing-masing.
Teringat dalam benak beliau adalah kawannya dalam perkumpulan sosial Yayasan Buddha Tzu Chi Kota Batam, yaitu Bpk. Herman, beliau menghubungi Bpk. Herman, yang kebetulan adalah umat yang sering berkunjung ke Cetiya Buddha Manggala. Bpk. Herman langsung menyampaikan hal ini kepada Kami, Dayaka Sabha Cetiya Buddha Manggala yang saat itu ada Bpk. Djarmin Sugianto selaku Ketua Dayaka, dan Suwarno.
Tentunya dengan respon yang baik, dan itu adalah bagian dari bentuk sebuah pelayanan sosial, maka kami dari Dayaka Sabha Cetiya Buddha Manggala menyetujui untuk memulai satu agenda baru, yaitu Siraman Rohani di Lapas.
Maka kami, yang terdiri dari: Bpk. Herman, Suwarno, dan Bpk. Amat Tantoso menghadap ke Kepala Lapas pada hari Sabtu, 26 November 2005, pukul 09:00 WIB, untuk mendiskusikan rencana memulai Siraman Rohani di Lapas. Bapak Kepala Lapas menyambut kami dengan senang hati, dan beliau justru malah mendukung, dan malah terbalik, di mana beliau yang malah meminta kami untuk mengisi, dikarenakan keterbatasan tenaga staf Lapas dalam urusan agama Buddha.
Sambutan baik dan positif dari Ka-Lapas inilah yang semakin membuat kami bersemangat untuk memulai langkah pelayanan ini, dan akhirnya sebagai agenda perdana, yang kebetulan saat itu ada Bhante Saddhaviro di Kota Batam, maka kami langsung mengajukan jadwal kepada Ka-Lapas untuk memulai Siraman Rohani pada hari Senin, 28 November 2005 jam 09:00-10:30.
Ternyata sambutan baik tak hanya dari Ka-Lapas dan staf Lapas seperti Kasi Binadik saja, namun dari teman2 Buddhis di Lapas menyambutnya dengan senang pula, dengan semangat mereka mau mengikuti Siraman Rohani ini, walaupun dengan kondisi apa adanya, di mana kami memanfaatkan koridor lapas lantai dua, yang biasanya digunakan sebagai tempat tidur karena saking penuh sesaknya warga lapas. Berkat kerjasama dengan warga lapas yang ada, kami dari umat Buddha diberikan ijin untuk menggunakan koridor tersebut. Kehadiran kami dari Cetiya Buddha Manggala benar-benar mendapat sambutan hangat, karena selama ini teman2 Buddhis di lapas sangat "haus" dengan siraman Dhamma.

Siraman Rohani yang perdana diadakan pada hari Senin, 28 November 2005 jam 09:00 s/d 10:30, dengan dipimpin oleh Suwarno, dan penceramah oleh Bhante Saddhaviro, yang mana beliau menjadi sebagai Ketua Bidang Sosial dan Budaya Sangha Theravada Indonesia. Siraman Rohani Perdana Agama Buddha, juga dihadiri oleh Penyelenggara Bimas Buddha Kota Batam, Bpk. Sudir yang telah berkenan membuka Siraman Rohani ini, beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada Cetiya Buddha Manggala yang telah membantu tugas beliau sebagai pembimbing umat Buddha di Kota Batam, beliau yang saat ini hanya sendirian bertugas di Kota Batam, merasa terbantu sekali dengan apa yang telah dimulai oleh Cetiya Buddha Manggala ini. Bapak Rudi Tan, selaku Tokoh Buddhis di Kota Batam, turut hadir, dan beliau juga berkenan memberikan pesan kepada teman2 Buddhis di Lapas supaya benar-benar mau belajar Buddha-Dhamma, dan menekuninya, kelak Dhamma yang telah dipelajari dapat berguna, sehingga setelah kembali ke dalam lingkungan masyarakat nantinya, mereka telah dapat berubah menjadi orang yang baik, yang telah menjalankan Dhamma.
Alunan bait-bait paritta suci, yang diawali dengan permohonan Tisarana dan Sila, dibacakan bersama-sama... memang pada awalnya ini, teman2 Buddhis di Lapas, masih sangat asing dengan bait-bait paritta, dan tata-cara ritual yang dilakukan menurut Buku Paritta Suci terbitan Sangha Theravada Indonesia.
Namun dengan tanpa menghilangkan inti dari ajaran Buddha yaitu Meditasi, Mendengarkan & Berdiskusi Dhamma pada waktu yang sesuai, Kami dari Dayaka Sabha Cetiya Buddha Manggala berusaha memberikan porsi terbanyak dengan cara melatih Meditasi dan Ceramah + Diskusi Dhamma.
Sesuai dengan kesepakatan lanjut, Umat Buddha oleh pihak Lapas diberikan jadwal setiap hari Kamis, sebanyak dua kali dalam sebulan, dengan waktu jam 09:00 s/d 11:00 dan tempat yang sama.
Kami sebagai pelayan Umat Buddha, sungguh2 merasa senang, dan bermudita-citta karena dengan melihat kondisi yang ada, ternyata umat Buddha di Lapas benar-benar bersemangat belajar Dhamma ... Tekunlah Belajar Dhamma wahai Kawanku ...
Demikian yang telah kami berikan kepada umat Buddha di Lapas, kami memulai pengabdian, pelayanan Siraman Rohani bagi umat Buddha di Lapas, diawali dengan satu permintaan dari Bapak Amat Tantoso pada akhir bulan November 2005, beliau adalah tokoh masyarakat di Kepulauan Riau, yang mana beliau saat itu berada di dalam lapas, beliau melihat satu kondisi dimana saat itu jumlah umat Buddha ada sekitar 20an orang di dalam Lapas, dan ternyata belum pernah ada Siraman Rohani Agama Buddha, sedangkan agama lain seperti Islam, Kristen, dan Katolik mereka mendapatkan jadwal Siraman Rohani dari majelis masing-masing.
Teringat dalam benak beliau adalah kawannya dalam perkumpulan sosial Yayasan Buddha Tzu Chi Kota Batam, yaitu Bpk. Herman, beliau menghubungi Bpk. Herman, yang kebetulan adalah umat yang sering berkunjung ke Cetiya Buddha Manggala. Bpk. Herman langsung menyampaikan hal ini kepada Kami, Dayaka Sabha Cetiya Buddha Manggala yang saat itu ada Bpk. Djarmin Sugianto selaku Ketua Dayaka, dan Suwarno.
Tentunya dengan respon yang baik, dan itu adalah bagian dari bentuk sebuah pelayanan sosial, maka kami dari Dayaka Sabha Cetiya Buddha Manggala menyetujui untuk memulai satu agenda baru, yaitu Siraman Rohani di Lapas.
Maka kami, yang terdiri dari: Bpk. Herman, Suwarno, dan Bpk. Amat Tantoso menghadap ke Kepala Lapas pada hari Sabtu, 26 November 2005, pukul 09:00 WIB, untuk mendiskusikan rencana memulai Siraman Rohani di Lapas. Bapak Kepala Lapas menyambut kami dengan senang hati, dan beliau justru malah mendukung, dan malah terbalik, di mana beliau yang malah meminta kami untuk mengisi, dikarenakan keterbatasan tenaga staf Lapas dalam urusan agama Buddha.
Sambutan baik dan positif dari Ka-Lapas inilah yang semakin membuat kami bersemangat untuk memulai langkah pelayanan ini, dan akhirnya sebagai agenda perdana, yang kebetulan saat itu ada Bhante Saddhaviro di Kota Batam, maka kami langsung mengajukan jadwal kepada Ka-Lapas untuk memulai Siraman Rohani pada hari Senin, 28 November 2005 jam 09:00-10:30.
Ternyata sambutan baik tak hanya dari Ka-Lapas dan staf Lapas seperti Kasi Binadik saja, namun dari teman2 Buddhis di Lapas menyambutnya dengan senang pula, dengan semangat mereka mau mengikuti Siraman Rohani ini, walaupun dengan kondisi apa adanya, di mana kami memanfaatkan koridor lapas lantai dua, yang biasanya digunakan sebagai tempat tidur karena saking penuh sesaknya warga lapas. Berkat kerjasama dengan warga lapas yang ada, kami dari umat Buddha diberikan ijin untuk menggunakan koridor tersebut. Kehadiran kami dari Cetiya Buddha Manggala benar-benar mendapat sambutan hangat, karena selama ini teman2 Buddhis di lapas sangat "haus" dengan siraman Dhamma.

Siraman Rohani yang perdana diadakan pada hari Senin, 28 November 2005 jam 09:00 s/d 10:30, dengan dipimpin oleh Suwarno, dan penceramah oleh Bhante Saddhaviro, yang mana beliau menjadi sebagai Ketua Bidang Sosial dan Budaya Sangha Theravada Indonesia. Siraman Rohani Perdana Agama Buddha, juga dihadiri oleh Penyelenggara Bimas Buddha Kota Batam, Bpk. Sudir yang telah berkenan membuka Siraman Rohani ini, beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada Cetiya Buddha Manggala yang telah membantu tugas beliau sebagai pembimbing umat Buddha di Kota Batam, beliau yang saat ini hanya sendirian bertugas di Kota Batam, merasa terbantu sekali dengan apa yang telah dimulai oleh Cetiya Buddha Manggala ini. Bapak Rudi Tan, selaku Tokoh Buddhis di Kota Batam, turut hadir, dan beliau juga berkenan memberikan pesan kepada teman2 Buddhis di Lapas supaya benar-benar mau belajar Buddha-Dhamma, dan menekuninya, kelak Dhamma yang telah dipelajari dapat berguna, sehingga setelah kembali ke dalam lingkungan masyarakat nantinya, mereka telah dapat berubah menjadi orang yang baik, yang telah menjalankan Dhamma.

Alunan bait-bait paritta suci, yang diawali dengan permohonan Tisarana dan Sila, dibacakan bersama-sama... memang pada awalnya ini, teman2 Buddhis di Lapas, masih sangat asing dengan bait-bait paritta, dan tata-cara ritual yang dilakukan menurut Buku Paritta Suci terbitan Sangha Theravada Indonesia.
Namun dengan tanpa menghilangkan inti dari ajaran Buddha yaitu Meditasi, Mendengarkan & Berdiskusi Dhamma pada waktu yang sesuai, Kami dari Dayaka Sabha Cetiya Buddha Manggala berusaha memberikan porsi terbanyak dengan cara melatih Meditasi dan Ceramah + Diskusi Dhamma.
Sesuai dengan kesepakatan lanjut, Umat Buddha oleh pihak Lapas diberikan jadwal setiap hari Kamis, sebanyak dua kali dalam sebulan, dengan waktu jam 09:00 s/d 11:00 dan tempat yang sama.
Kami sebagai pelayan Umat Buddha, sungguh2 merasa senang, dan bermudita-citta karena dengan melihat kondisi yang ada, ternyata umat Buddha di Lapas benar-benar bersemangat belajar Dhamma ... Tekunlah Belajar Dhamma wahai Kawanku ...
Subscribe to:
Posts (Atom)